Minggu, 17 Januari 2010

Monumen Sejarah Kota Jakarta

Monumen Nasional
Monumen Nasional terletak di pusat Jakarta, di depan Istana Negara dan dalam area gedung-gedung kantor pemerintahan. Pembangunan menara ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno dengan Soedarsono dan Silaban sebagai arsiteknya dalam rangka menunjukkan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia, dilambangkan sebagai obor dengan api yang menyala-nyala di atasnya, monumen ini juga melambangkan lingga dan yoni yang merupakan perwujudan kesuburan tanah air Indonesia, atau juga melambangkan alu dan lumpang (penumbuk padi) juga perwujudan kesuburan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Pembangunan selesai pada tanggal 12 Juli 1975 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Tinggi menara ini 137 meter, nyala api yang terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dilapisi emas seberat 35 kilogram, bentuk piringan persegi dibawahnya berukuran lebar 45 X 45 meter dan tinggi 17 meter, dan ruangan Sejarah Nasional di dalamnya mempunyai tinggi langit-langit 8 meter.

Patung Selamat Datang

Patung atau Tugu Selamat Datang di depan Hotel Indonesia ini dibuat dalam rangka persiapan penyelenggaraan ASIAN GAMES ke IV di Jakarta pada tahun 1962. Tujuan pembangunan patung ini adalah untuk menyambut tamu-tamu yang tiba di Jakarta dalam rangka pesta olah raga tersebut. Patung tersebut menggambarkan dua orang pemuda-i yang membawa bunga sebagai penyambutan tamu.
Hotel Indonesia pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran dan langsung menuju ke hotel Indonesia yang menjadi tempat penginapan bagi mereka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel maka mereka akan mendapatkan patung Selamat Datang ini di depannya.
Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Patung terbuat dari perunggu. Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter. Sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 meter. Sementara tinggi voetstuk atau kaki patung adalah 10 meter dikerjakan oleh PN. Pembangunan Perumahan. Pelaksana pembuatan patung adalah team pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat pembuatan presiden Soekarno didampingi Duta Besar Amerika pada saat itu Mr. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1962.

Patung Dirgantara
Patung ini menghadap ke Utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran, lokasinya dekat dengan Markas Besar Angkatan Udara di Selatannya dan Bandar Udara Domestik Halim Perdana Kusuma di Tenggaranya.
Melambangkan kekuatan angkatan udara Indonesia, dengan bentuk patung manusia yang kuat dan berani terbang menjelajah angkasa.
Presiden Soekarno ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dilindungi oleh angkatan udara yang kuat dan dilayani oleh transportasi udara yang solid sebagai sarana perpindahan manusia.
Bertempat di kawasan Pancoran dan juga disebut sebagai Patung Pancoran, patungnya memiliki tinggi 11 meter terbuat dari 11 ton perunggu, dengan landasan berbentuk lengkungan dari beton setinggi 27 meter. Dirancang oleh Edhi Sunarso, dibuat oleh seniman Keluarga Arca dari Yogyakarta, dan diawasi langsung oleh Presiden Soekarno sendiri, patung ini selesai dibangun dalam dua tahun (1964-1965). Ada gosip yang mengatakan bahwa Presiden Soekarno harus menjual mobilnya untuk membiayai pembuatan patung ini. Sayangnya sekarang monumen ini tertutupi oleh jalan layang dan jalan tol.

Patung Pahlawan atau Tugu Tani
Nama resmi dari patung ini adalah Patung Pahlawan, tetapi karena bentuk dari figur lelaki yang memakai topi caping seperti yang sering dipakai oleh petani maka patung ini disebut Patung Pak Tani. Patung ini dibuat untuk memberi penghargaan pada para pejuang kemerdekaan Indonesia, dilambangkan dengan seorang lelaki memakai caping dan menyandang senapan sedang meminta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju ke medan perang. Cerita asal muasal patung ini dimulai ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Moskow dan disana beliau terkesan pada patung-patung yang ada di ibukota Rusia tersebut, sehingga Presiden Rusia pada saat itu mengenalkan Presiden Soekarno pada seniman pembuat dari patung-patung tersebut, Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer. Yang kemudian diundang untuk datang ke Jakarta untuk membuat patung yang melambangkan semangat kemerdekaan, kemudian kedua pematung ini berkelana ke daerah-daerah pedesaan di Indonesia dan menemukan sebuah legenda Jawa Barat yang menceritakan seorang Ibu yang mengiringi anaknya untuk pergi ke medan perang, sang Ibu memberikan semangat supaya kuat tekadnya untuk memenangkan setiap peperangan, serta selalu ingat kepada orang tua dan negaranya.
Patung perunggu ini dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia menggunakan kapal laut, diresmikan pada tahun 1963 oleh Presiden Soekarno. Pada papan di monumen ini tertulis "Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar"

Patung Pembebasan Irian Barat
Patung perunggu ini dibuat untuk memperingati kebebasan Irian Barat atau Irian Jaya yang sekarang disebut
Patung terbuat dari perunggu dengan berat kurang lebih 8 ton.
Tinggi patung dari kaki sampai kepala 9 meter, tinggi keseluruhan sampai ujung tangan kurang lebih 11 meter.
Tinggi kaki patung (voetstuk) 20 meter terhitung dari jembatan, sedangkan dari landasan bawah 25 meter.
Pelaksana PN Hutama Karya dengan arsitek Silaban.
Pelaksana pematung: Team pematung Keluarga Arca Yogyakarta.
Lama pembuatan kurang lebih 1 tahun
Diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1963 oleh Bung Karno. Ide pembuatan patung berasal dari Bung Karno, kemudian “diterjemahkan” oleh Henk Ngantung dalam bentuk sketsa. Ide tersebut tercetus dari pidato Bung Karno di Yogyakarta. Pidato Bung Karno telah menggerakkan massa untuk bertekad membebaskan saudara-saudaranya di Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.
Berlokasi di Lapangan Banteng dekat Hotel Borobudur dan Gedung Departemen Keuangan, daerah ini dulunya dipakai untuk terminal bus, tetapi sekarang dipakai untuk tempat budi daya dan pameran tanaman.

Patung Pemuda Membangun
Patung ini dibuat sebagai penghargaan untuk para pemuda dan pemudi dalam keikut sertaannya pada pembangunan Indonesia, dilambangkan dengan seorang pemuda kuat yang memegang piring berisi api yang tak pernah padam sebagai perwujudan semangat pembangunan yang tak pernah mati. Patung ini terbuat dari beton bertulang yang dilapisi oleh teraso, mulai dibangun pada bulan Juli 1971 oleh tim gabungan Insinyur, Seniman dan Arsitek (Biro IBA) dengan Imam Supardi sebagai pimpinan tim dan Munir Pamuncak sebagai penanggungjawab pelaksana, direncanakan untuk diremikan pada Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1971, tetapi karena pembangunan belum selesai maka diresmikan pada bulan Maret 1972. Patung ini terletak pada Bundaran Senayan, tempat strategis sebagai titik temu antara Senayan sebagai pintu gerbang Jakarta Pusat dengan area Jakarta Selatan .

Patung Arjuna Wijaya / Asta Brata ( Patung Kuda Setan)
Patung Arjuna Wijaya yang dibangun Agustus 1987 ini ngegambarin Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya ’disetirin’ sama Batara Kresna. Adegan patung karya pematung Nyoman Nuarta itu diambil dari fragmen waktu mereka melawan Adipati Karna. Kereta itu ditarik delapan kuda, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolai oleh Presiden Soeharto. Asta Brata itu meliputi falsafah bahwa hidup harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan. Di bagian patung itu nempel prasasti yang bertuliskan "Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir."

Pada waktu pembuatannya, karena keterbatasan dana, akhirnya patung itu dibuat dari bahan poliester resin yang punya kelemahan mudah rapuh jika terkena sinar ultraviolet. Emang kebukti kok kalu patung ini mulai keropos, sampe akhirnya tahun 2003, patung ini direnovasi dengan menelan biaya 4M (4 miliar, bukan 4 meter‼) dan material patungnya diganti dengan bahan tembaga.



Patung Jendral Sudirman
Sebuah patung megah patung Jenderal Sudirman mewarnai Ibu Kota Jakarta. Patung berukuran 12 meter itu terdiri atas, tinggi patung 6,5 meter dan voetstuk atau penyangga 5,5 meter, terletak di kawasan Dukuh Atas, tepatnya depan Gedung BNI, di tengah ruas jalan yang membelah Jalan Sudirman dan berbatasan dengan Jalan Thamrin. Patung ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton dengan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar dan dikerjakan oleh seniman sekaligus dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung, Sunario.

Sosok Jenderal Sudirman digambarkan berdiri kokoh menghormat dan kepala sedikit mendongak ke atas untuk memberi kesan dinamis. Karena berdiri di tengah kawasan yang penuh dengan beragam aktivitas, patung sengaja didesain sederhana dan tidak memerlukan banyak rincian.

Biaya pembangunan patung yang menelan dana Rp 6,6 miliar berasal dari pengusaha, bukan dari APBD DKI. Sebagai kompensasinya pengusaha mendapat dua titik reklame di lokasi strategis, Dukuh Atas. Sementara yang menentukan penyandang dana diserahkan kepada keluarga Sudirman. Pengusaha yang telah ditunjuk mendanai pembangunan patung, yakni PT. Patriamega. Sebagai kompensasinya, PT. Patriamega memperoleh dua titik reklame di lahan strategis di Dukuh Atas, yakni di titik A dan 6B. Bagi kalangan penyelenggara reklame, titik tersebut adalah sangat strategis dan nilai jualnya paling mahal.

Jenderal Sudirman adalah pemimpin pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan (1945-1949). Ia menyandang anugerah Panglima Besar. Jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negera layak dikenang dan diabadikan.

Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites