Rabu, 18 Januari 2017

6 Hal Dasar yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Saham



Dalam dunia investasi, tak ada batasan pengetahuan yang dapat dipelajari seseorang untuk membantu dirinya agar menjadi investor yang lebih baik. Dalam kondisi pasar keuangan yang berevolusi secara konstan, investor baru mungkin akan langsung kabur jika harus segera mempelajari berbagai pengetahuan investasi dalam tempo singkat.

Untunglah, ada beberapa prinsip-prinsip berinvestasi yang tak pernah berubah. Apa yang digunakan oleh para investor legenda, seperti Benjamin Graham, Peter Lynch dan Warren Buffett di masa lalu, masih bisa kita gunakan pada saat ini.

Jika Anda investor baru, ada 6 terminologi investasi yang dapat membantu berinvestasi.

1. Price-To-Earnings Ratio

Paling pertama yang paling diperhatikan oleh banyaki investor adalah Price-To-Earnings ratio, atau lebih dikenal dengan P/E ratio. P/E ratio mengacu pada seberapa banyak yang Anda bayar untuk membeli saham dari setiap $1 yang dapat dihasilkan. Misalnya, P/E ratio sebesar 10 kali, berarti investor perlu membayar sebesar $10 untuk setiap $1 yang dihasilkan perusahaan.

P/E ratio cukup penting karena membantu untuk mengukur seberapa mahal atau murahnya suatu perusahaan jika dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama.

Contoh, berdasarkan harga ketika tulisan ini dibuat, P/E ratio tiga perusahaan telekomunikasi di Singapura berkisar 13,2 hingga 15,9. M1 mempunyai P/E rasio terendah sebesar 13,2, dan SingTel tertinggi sebesar 15,9. Itu berarti investor membayar sekitar $2,70 lebih mahal untuk saham SingTel jika dibandingkan dengan saham M1 untuk setiap dolar yang dihasilkan.

Semakin rendah P/E rasio, semakin murah biaya untuk memiliki saham itu. Pada saat yang sama, perlu untuk mempertanyakan mengapa saham-saham tersebut bisa lebih murah dibanding kelompoknya dalam industri. Apakah perusahaan yang mengambil lebih banyak utang untuk menghasilkan pendapatan, membuatnya menjadi lebih berisiko? Atau mungkin perusahaan pada akhir tahun menghasilkan keuntungan yang tinggi, menyebabkan P/E yang sangat rendah yang pada akhirnya akan kembali meningkat pada tahun-tahun sesudahnya. Semua pertanyaan itu, bahkan investor baru, perlu mempertanyakannya.

2. Price-To-Book Ratio

P/E ratio mempunyai keterbatasan karena hanya dapat digunakan untuk perusahaan yang menghasilkan keuntungan. Pada saat bersamaan, hanya karena perusahaan tidak memnghasilkan keuntungan pada selama satu tahun, bukan berarti tiba-tiba menjadi tidak berharga. Aset yang dimiliki perusahaan dalam neracanya, mempunyai nilai yang nyata (tangible).

Price-To-Book ratio, juga dikenal dengan P/B ratio, digunakan untuk mengukur nilai pasar (misal, harga saham) perusahaan terhadap nilai bukunya (misal, aset yang dimiliki minus kewajiban). P/B ratio 1, berarti nilai pasar perusahaan tersebut sama dengan nilai bukunya.

P/B ratio yang lebih besar dari 1, berarti nilai pasar perusahaan tersebut lebih besar dari nilai bukunya. Misalnya, perusahaan bisa bernilai $200 juta meskipun asetnya hanya bernilai $100 juta. P/B ratio kurang dari 1, berarti nilai pasar perusahaan lebih rendah ketimbang nilai bukunya. Misalnya, nilai pasar perusahaan mungkin $100 juta meskipun nilai buku asetnya mencapai $150.

Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap perusahaan real estate, adalah lumrah untuk mendapatkan perusahaan yang mempunyai P/B ratio kurang dari 1. Ini terjadi karena perusahaan real estate cenderung sedikit menahan aset dalam bukunya dalam bentuk properti yang mereka miliki dan belum akan dijual.

Salah satu cara untuk memhami perbedaan antara P/E dan P/B ratio adalah dengan menganggap P/E ratio sebagai gaji dari perusahaan dan P/B ratio sebagai properti yang dimiliki. Beberapa orang mungkin mempunyai gaji tinggi tapi hanya sedikit aset. Orang lain mungkin mempunyai banyak aset tapi hanya sedikit penghasilan.

3. Dividend Yields

Jika sasaran untuk berinvestasi adalah menikmati pendapatan pasif, maka mengetahui saham-[saham mana saja yang secara teratur memberi dividen kepada pemilik saham akan menjadi penting. Dividen mengacu pada sejumlah dana yang dibayar secara teratur dari perusahaan kepada pemilik saham berdasarkan keuntungan atau cadangan.

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua perusahaan membayarkan dividen. Ada sejumlah perusahaan yang tidak mempunyai kebiasaan membayarkan dividen meskipun bisnisnya menai hasil yang bagus. Salh satunya adalah Google, yang lebih suka menahan semua keuntungannya di perusahaan untuk menjamin pertumbuhan di masa mendatang.

Aspek lain yang perlu dicatat adalah apakah perusahaan itu mempunyai kebijakan tertntu tentang dividen, atau mempunyai catatan membagikan dividen secara konsisten. Konyol jika investor berinvestasi di sebuah perusahaan yang membagikan dividen tertinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan keberlanjutan pembayaran dividen yang tinggi.

Perusahaan telekomunikasi cenderung akan memberikan pembayaran dividen yang stabil kepada pemilik saham karena aliran dananya yang stabil. Data menunjukkan, di tiga perusahaan telekomunikasi Singapura pembayaran dividen berkisar 4,5% hingga 6% per tahun.

4. Volume Weighted Average Price

Ketika ingin membeli saham, hal pertama yang biasanya terpikirkan adalah berapa banyak biaya saham pada saat ini. Meskipun pemikiran itu tidak salah, namun tidak selalu menjadi cara yang paling efektif untuk melihat pada harga saham tersebut, terutama jika maksud Anda adalah berinvestasi saham selama periode tertentu, bukan menaruh semua uang Anda dalam satu kesempatan.

Selama invetasi saham dilakukan secara bertahap dari waktu ke waktu, maka akan lebih masuk akal untuk melihat volume harga rata-rata (Volume Weighted Average Price), daripada medasarkannya pada harga saham pada satu hari. Volume harga rata-rata memperhitungkan nilai total sham yang telah ditransaksikan selama periode tertentu (misal, 6 bulan) dibagi dengan total volume yang diperdagangkan. Perhitungan ini akan memberi gambaran yang lebih baik tentang berapa harga saham selama priode silam.

Misalnya, harga saham mungkin sebesar $1 pada hari ini, tapi mungkin mempunyai volume harga rata-rata $0,95 selama 3 bulan terakhir. Bisa saja, harga yang dibayarkan untuk saham itu mendekati $0,95, dan bukan $1 biaya hari ini.

Logika yang sama diterapkan ketika menjual saham. Kendati maksud Anda adalah menjual semua saham Anda dalam sehari, akan lebih akurat untuk melihat volume harga rata saham selama periode tertentu.

5. Market Capitalisation

Market Capitalisation atau kapitalisasi pasar adalah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan nilai total dari suatu perusahaan. Secara sederhana, terminologi ini mengungkapkan seberapa besar nilai sebuah perusahaan secara total berdasarkan harga sahamnya saat ini.

Untuk menghitung kapitalisasi pasar, cukup dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang terlah diterbitkan perusahaan. Misal, DBS sudah menerbitkan 2,5 juta saham. Jika harga saham ketika tulisan ini dibuat sebesar $15,68, maka kapitalisasi pasar DBS sekitar $39,2 miliar.

Pada umunya, kebanyakan orang lebih suka berinvestasi di perusahaan yang mempunyai kapitalisasi besar lebih tinggi. Hal itu lantaran perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang lebih tinggi akan cenderung mempunyai likuiditas yang juga lebih tinggi. Sejulah lembaga investasi bahkan mempunyai mandat investasi yang hanya memperkenankan manajer investasi untuk berinvestasi di perusahaan dengan kapitalisasi pasar bernilai minimum tertentu.

6. Beta

Beta adalah ukuran volatilitas sebuah saham dibandingkan dengan volatilitas pasar secara keseluruhan. Nilai beta yang kurang dari 1, berarti volatilitas saham tersebut lebih kecil dibanding keseluruhan pasar.

Misal, saham dengan beta 1,1 cendrung mempunyai volatilitas 10% lebih besar dibanding pasar. Investor yang tidak terlalu suka mengambil risiko kemungkinan besar akan memilih saham dengan beta yang rendah.

Kapanpun pembelian saham itu dilakukan, sangat baik untuk mengetahui angka beta dari saham tersebut, terutama jika Anda terbilang baru berinvestasi. Beta akan memberi gambaran seberapa besar volatilitas sebuah saham, dibandingkan dengan keseluruhan pasar.

Menggunakan Data Saham Untuk Memilih Perusahaan

Jika Anda terbilang baru dalam berinvestasi, sejumlah situs (termasuk situs ini) menyediakan fasilitas stock-screening yang siap digunakan untuk mulai menyeleksi saham-saham yang memenuhi kriteria Anda. Anda bisa membandingkan berbagai tipe saham yang Anda inginkan dari sejumlah saham yang telah Anda seleksi.

Sumber: dollarandsense.sg

۞Peta Harta۞

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites