English French German Spain Italian Dutch
Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 12 April 2013

Life is not like a game

Hidup itu tidak seperti bermain game.

Memang banyak yang bilang dan meng analogi kan kehidupan itu seperti bermain game, tapi ada beberapa perbedaan kehidupan nyata dengan game.
hal ini perlu ditekankan agar kita tidak terlena dengan angan-angan / khayalan semata. ( slogan saya : realistis optimis )

1. Life.
didalam game ada tempat revive point, dimana bila kita mati kita bisa hidup kembali, tentu saja di dunia nyata ini tidak mungkin terjadi, karena itu sebelum anda berencana mengakhiri hidup anda coba pikir lagi deh, anda yakin bisa hidup lagi? gag kan? pikirkan orang-orang susah payah untuk bertahan hidup ( misalnya di medan perang ) kenapa anda malah mensia sia kan kehidupan anda?

2. Quest
quest dalam kehidupan nyata sendiri memang ada, quest di game maupun di dunia nyata sama sama bertujuan untuk menaikan level dan quest di dalam game selalu sama untuk setiap chart ( newbie ) , tetapi perbedaanya adalah, bila di dalam game, kita bisa mengetahui quest apa saja yang akan kita kerjakan, yang belum, yang penting dan quest yang akan diberikan. namun berbeda di dunia kita, quest kita bersifat rahasia, setiap orang bisa berbeda mendapatkan quest yang diberikan oleh GameMaster - Allah., karena itu tidak perlu mengeluh atas keadaan yang ada pada diri kita, toh itu sudah di sesuaikan dengan level kita sesuai dengan chart asli kita di dunia nyata. hanya karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya bukan berarti kita tidak bisa mempersiapkannya.

3. Skill.
di dalam game kita bisa menguasai banyak skill yang dipelajari dalam waktu singkat bahkan bisa menggunakan skill dari chart yang berbeda, tetapi pada kenyataannya untuk menguasai / mempelajari suatu keahlian kita memerlukan waktu yang tidak sedikit, bahkan bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun. jadi apabila kalian ingin mempelajari sesuatu anda harus tekun, dan hasilnya juga tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. semua skill di dunia nyata ini memerlukan proses dan pematangan untuk hasil maksimal ( level skill )

4. War
kebanyakan game memang bertemakan perang dan kekerasan, karena jujur, memang game yang seperti ini lebih menarik karena harus mengatus strategi, menaikan level dll. tetapi kita hidup tidak di zaman perang, karena itu hindarilah kerusuhan dan keributan. pada dunia nyata memang anda tidak akan di banned oleh GM - Allah, tetapi tentu saja itu akan mengurangi point anda dalam kehidupan. cintailah kedamaian, karena damai itu indah.



salam,
Mantan pecandu game

Logika Perbandingan - Menutup Aurat

Photo by Google
Logika perbandingan mengapa menutup aurat.

Tahukah anda bahwa segala sesuatu yang berharga itu akan di jaga / di tutup dengan baik dan rapat, mengapa begitu? akan saya berikan beberapa contoh

1. Anda tentu sering melihat film mengenai pencurian emas / berlian / uang dalam jumlah besar, emas / berlian tersebut akan di simpan di sebuah brankas yang tertutup rapat, bahkan tidak ada tempat untuk mengintip.
karena emas / berlian itu bernilai tinggi alias berharga maka ia harus dijaga, salah satunya dengan memasukannya ke "brankas yang terkunci dan tertup rapat".

2. Mari kita berjalan ke arah perumahan Permata Hijau / Pondok Indah, apa yang akan kalian lihat adalah perumahan megah dengan pagar pagar menjulang tinggi hingga 2 meter lebih.
mengapa demikian? jawaban yang lumrah adalah agar tidak mudah di masuki pencuri.
ya memang benar demikian, rumah megah itu pasti berisi barang barang berharga dan mahal, maka dari itu cara melindunginya antara lain, meninggikan "pagar" untuk melindungi dari pencuri yang memanjat, selain itu juga ada tambahan satpam yang mengawasi.

3. Manusia adalah organisme yang unik, faktanya adalah bahwa sudah secara sistematis organ tubuh kita yang vital akan otomatis dilindungi. contoh nya :
a. Otak. otak merukapan organ vital tubuh manusia tanpa otak kita hanya sebongkah daging, karena itu otak di lindungi oleh "tempurung otak", kemudian di lindungi oleh kulit kepala dan rambut.
b. Jantung, Hati, Paru-paru. anda semua pasti sudah tahu bahwa semua organ tersebut dilindungi oleh tulang tulang yang terususun rapi di dalam tubuh kita untuk "melindungi" dari benturan dll.
c. Kulit, apa pelindung dari kulit? pelindung kulit adalah rambut / bulu yang ada di sekujur tubuh kita, faktanya adalah semakin banyak tempat yang di tumbuhi rambut itu merupakan tempat vital kita. misalkan kepala, ketiak, atas bibir (kumis) dan kemaluan.

Selain semua contoh diatas pelindung yang ingin saya bandingkan kali ini adalah pakaian.
kenapa?
karena pakaian adalah pagar pelindung tubuh kita, seperti halnya berlian dalam brangkas, rumah mewah dengan pagar tingginya, dll.

apa yang pakaian yang biasa kita pakai?

khususnya perempuan, bukankah semakin minim / sedikit pakaian yang kamu kenakan semakin mebuktikan bahwa bagian yang terbuka / tidak di tutupi itu adalah hal yang tidak berharga untuk kamu?
karena kalau kamu menganggap bahwa tubuhmu itu berharga maka kamu akan menghormatinya dengan merawatnya, menjaganya, dan memberikan penutupnya sebgaimana kamu menghargainya.

maka, tutuplah auratmu.
rawatlah tubuhmu, dan syukurilah nikmatmu.
berhijablah.

Salam One Piece



Selasa, 02 April 2013

Sehat Dan Sembuh - Obat Bukan Solusi

Dr. Tan Shot Yen : Sehat Dan Sembuh - Obat Bukan Solusi

Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Dokter Tan Shot Yen dikenal sebagai seorang dokter yang kritis dan sering diundang sebagai pembicara dan narasumber di berbagai seminar. Selain sebagai dokter, dia juga praktisi Braingym dan Quantum, serta Hypnoterapist.

Menurut Dr. Tan Shot Yen, "Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu 'bagaimana'. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. "Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda." "Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya'? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. Pasien dalam hal ini mengamini saja, padahal pasien harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya, " jelas dr. Tan.

Sakit adalah Introspeksi

"Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh ke belakang. Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Dalam fase inilah sesungguhnya peran dokter sangat diperlukan untuk membimbing pasien menemukan kesembuhannya dan tidak  hanya meninabobokan pasien dengan obat.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang sebagian besar akhirnya berakhir di atas kertas resep (habis untuk menebus obat obatan). Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi kep-erluan berobat salah satu anggota keluarga.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi, dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar," tuturnya lugas.


Inilah beberapa tips sehat ala Dokter Tan.
Semua karbohidrat buruk seperti gula dan turunannya, terigu, beras dan pati, akan cepat diubah menjadi gula dan masuk dalam peredaran darah. Kalau ini terjadi terus-menerus, efek lanjutannya adalah menurunnya daya tahan tubuh, kegemukan, kolesterol, diabetes, dan penyempitan pembuluh darah.

Sebagai ganti karbohidrat buruk, sayur mentah dan beberapa jenis buah bisa menjadi menu yang mengenyangkan dan menyehatkan. Dengan makan sayur mentah dan buah, dijamin enzim berguna masih hidup dan semua vitamin serta antioksidannya tidak hilang. Porsinya tentu harus memadai, misalnya untuk makan siang (dengan takaran satu dinner plate): 1 ikat selada segar, 1 bh timun, 1 bh tomat, 1 bh alpukat, dan 1 bh apel. Sayuran yang kita konsumsi sebaiknya tidak dimasak, karena manfaatnya sudah tidak ada lagi (nilai gizi sudah hilang).

BUAH YANG BAIK untuk dimakan antara lain: apel, alpukat, dan pir. Buah lain seperti durian, mangga, pepaya, dan pisang sebaiknya dihindari karena kandungan gulanya tinggi. Satu lagi, sebaiknya buah dimakan langsung dan tidak diolah terlebih dulu seperti misalnya dijus. Karena dengan dijus, terjadi pengrusakan serat, sehingga yang Anda asup hanya gulanya saja.

BAHAN MAKANAN sebaiknya tidak digoreng, karena bisa menjadi racun dan merusak organ tubuh. Usahakan makanan dikukus atau dibakar. Jika dibakar, jangan lupa dialasi daun.

PRODUK KEDELAI yang baik adalah tempe, oncom dan tauco. Sedangkan susu kedelai, kecap dan tahu kurang bagus, karena bisa menjadi pencetus kanker.

BUAH JERUK BAIK UNTUK TUBUH, karena mengandung anti-oksidan, tapi jangan dicampur dengan air hangat atau panas, karena bisa berubah menjadi racun.

HINDARI MENGONSUMSI MAKANAN YANG TELAH MELEWATI PENGAWETAN atau dalam kaleng, karena bisa sebagai pencetus penyakit.

JANGAN PERNAH MERASA TUA, karena bisa membuat seluruh tubuh kita terasa semakin tua. Usia boleh tua, tapi pikiran dan semangat kita harus tetap muda, supaya seluruh energi positif mengaliri seluruh tubuh kita.

JIKA ANDA MERASA SAKIT seperti flu, hipertensi, kolesterol dan lain-lain, coba instropeksi makanan atau minuman apa saja yang telah Anda konsumsi sebelumnya, lalu hindari. Jangan hanya minum obat, tapi makanan buruk yang Anda asup tidak berubah.

JANGAN TERPAKU PADA PEMIKIRAN BAHWA SEHAT HANYA DARI MAKANAN DAN OLAH RAGA SAJA. Sehat yang sebenarnya adalah sehat secara makanan, sehat secara fisik (olah raga yang benar), dan sehat secara pikiran dan iman.


۞Peta Harta۞

Perkenalkan, Dr. Tan Shot Yen!


OPINI | 14 April 2010 | 09:06

Dibaca: 9586    Komentar: 27   1 Bermanfaat

Cerita ini dimulai dari persiapan buku saya yang membutuhkan kata pengantar dari seorang dengan kredibilitas tinggi serta baik di dalam dunia kesehatan. Karena permintaannya muncul di last minute, agak bingung juga mencari kandidat terbaik untuk masalah ini. Bukan cuma masalah terbaik, masalahnya ‘yang terbaik’ itu ada yang mau nggak?

Siapa gue gitu loh?!

Kemudian Irene, managing editor di majalah Prevention, salah satu majalah di mana saya berperan sebagai kontributor, mengingatkan bahwa ada salah satu (dari sesama) kolumnis di majalahnya, ada yang suka dan menjadi penggemar dari tulisan-tulisan saya. Kolumnis itu bernama Dr. Tan Shot Yen!


Wah, penggemar tulisan gue? Rasanya mau terbang ke langit ketujuh. Dr. Tan, demikian beliau akrab dipanggil, adalah salah satu ikon dunia kesehatan kelas utama di Indonesia, terutama saat pengobatan naturopati mulai mewabah akibat menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan konvensional. Metodenya yang unik namun ampuh membuat pasien beliau berkembang layaknya bilangan yang dipangkatkan dari waktu ke waktu. Belum lagi tulisan-tulisannya yang trengginas serta mengena bagi banyak pihak, membuat gaung nama beliau makin menggema di seantero jagad negeri ini. To make things even bolder, buku yang ditulisnya menjadi salah satu mega seller di negeri ini. Mega seller? Ya, kalau dihitung sebagai buku kesehatan, sebuah subjek non populer di negara ini. Sebuah bukti bahwa ilmu yang disandangnya dipandang sangat berguna oleh beragam pihak.

Kalau sampai dia bersedia memberikan kata pengantar di buku saya? Wow, ….. (kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya).

SUARA LANTANG
“..bsk tlg krm hard copynya aja (fotokopi lah) selagi kau dtg bsk?” sepotong kalimat penuh kata singkatan yang saya terima di HP. Singkat dan lugas, tapi membuat saya bergegas ke tempat praktiknya di bilangan perumahan satelit Bumi Serpong Damai. Uniknya ia meminta saya secara spesifik datang di pukul 11. “Jangan terlambat!”. Kenapa jam 11?

“Dia pengen elo, liat cara dia menangani pasien-pasien barunya, makanya jangan telat” tukas Irene -redpel dari Prevention tadi- saat saya menanyakan kenapa jam itu yang dipilih? Kantor atau praktek beliau sangat mudah ditemukan. Satpam di kawasan pusat bisnis distrik langsung menunjukkan lokasinya “Itu mas, yang paling rame..”. Dan memang benar, parkiran di depan kantor beliau sangat penuh oleh beragam jenis mobil, dan menunjukkan penuhnya pengunjung di ruang penerimaan tamu yang sebenarnya cukup lapang namun menjadi terkesan sempit dan penuh sesak.

“Wey! Kedatengan orang penting nih gue!” teriak Dr. Tan lantang saat ia membuka pintu kamar prakteknya dan melihat saya berdiri di depan -ragu-ragu mau mengetuk untuk meminta ijin masuk. Teriak? Yup! Suaranya memang mirip dengan orang berteriak, walau ia sebenarnya bicara dengan nada biasa-biasa saja -menurutnya. Suaranya cukup lantang untuk membuat kita mau tidak mau berkonsentrasi menerima kehadiran beliau di depan. Ia menarik saya masuk, agak gak enak juga rasanya, karena di depan pintu itu telah duduk berdesak-desakan para pasien yang menunggu giliran.

“Apa kabar? Wah, kamu tau gak saya ini penggemar berat tulisan-tulisan kamu, dan selalu menunggu kesempatan kapan bisa bertemu dengan anak ini?” Komentar yang membuat muka ini merah (kalau saja kulit saya berwarna terang). “Dokter bisa aja, at least you already made something, I haven’t ” jawab saya semerendah mungkin. Bukan basa-basi, terutama yang mengenal saya, dan sering mengatakan bahwa saya adalah orang yang perlu lebih belajar basa-basi dan memfilter mulut dari mengucapkan kalimat pedas serta langsung ke tujuan. Tapi di depan sosok Dr. Tan, kharisma saya kalah bersinar dan lebih memilih untuk merendah sekalian.

Kami berbasa-basi singkat, saling mengenal dan bertukar informasi. Kami mulai membahas isi buku saya secara sistematis, beliau nampak sangat tertarik dan begitu apresiatif. “Kenapa lo gak kasih judul yang bombastis sih? Yoga for Healing misalnya?”.

Saya tertawa sambil menggeleng, “Saya gak mau membuat orang berharap terlalu banyak, akhir-akhir ini status saya mulai membuat orang-orang berdatangan dan mengharapkan kesembuhan secara instan dan ajaib, which is not what yoga can provide“.

“Persis! Gue juga gitu! Heran? Sakit mayoritas gara-gara kesalahan hidup mereka, eh dateng-dateng ke kita, kemudian bertindak sepertinya kita bisa memberikan ‘pil ajaib’ atau tongkat mukzizat yang bisa membuat mereka sontak sehat!” Tukasnya mengamini.

Tapi ia sekali lagi mengkritik usaha saya untuk low profile. “Udah deh, payah lo ah. Bikin judul yang bombastis dikit, napa? Kalau mau jadi terapis terkenal ya mau gak mau harus begitu sedikit” Saya terbahak mendengar respons ini. “Dok, saya gak pernah dan gak akan mau berusaha menjadi seorang terapis. Saya lebih suka menulis, mengajar yoga pun lebih karena dipaksa oleh lingkungan” Dia tertawa juga mendengar reaksi ini. “Gak bisa gitu, liat aja nanti, kalau menilik tulisan-tulisan dan testemoni yang masuk tentang kamu, mungkin suatu saat elu akan terpaksa mengurus ijin praktek karena tuntutan masyarakat”

Wow! Itu sebuah fenomena yang cukup menakutkan bagi saya, dan rasanya terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

PRAKTEK YANG UNIK
Dr. Tan meminta saya untuk keluar sebentar, karena pasien-pasien lamanya akan masuk, dan kembali lagi setelah sesi pasien baru. Ruang kecil beliau segera disesaki oleh pasien-pasien lama yang bergegas masuk begitu saya keluar. Tanpa harus menunggu lama, gaya ramah namun berapi-api Dr. Tan yang tadi keluar saat bersama saya segera berganti menjadi gaya meledak-ledak tapi galak. Wuih! Gak kebayang rasanya diomelin atau nyaris dimaki-maki seperti itu. Tapi gak ada yang bisa protes, karena mayoritas apa yang diucapkan dr. Tan begitu mengena dan nyata. Intinya sih, kalau gak ikhlas dan jujur mengakui kesalahan, saya menjamin tidak mungkin akan ada pasien yang betah berada di hadapan beliau.

Entah kharisma apa yang dimilikinya? Tapi pasien itu rata-rata gak ada yang ngeyel atau mengelak saat ditembak oleh Dr. Tan dengan pertanyaan yang sebenarnya lebih mirip tuduhan! Habis mau ngeles gimana? Namanya kepengen sembuh, mending jujur kali ya? Tampaknya itu yang terbersit di pikiran mereka. Macam-macam ‘tuduhan’ beliau, mulai dari tidak patuh terhadap menu makan yang disepakati, kemalasan mereka menggerakkan tubuh seperti perintah, atau nekat mengkonsumsi bahan makanan yang dipantangkan bagi mereka.

Luar biasa dokter satu ini!

Yang lebih kacau lagi, saat ia ‘mengomeli’ seorang pasiennya yang nampaknya terserang stroke dan telah berangsur sembuh namun masih enggan melepaskan diri dari tongkatnya. “Kalau tidak mau lepas dari tongkat ini, secara fisik dan mental kamu merusak tubuh kamu sendiri, coba lepas tongkat itu, lepas!” Saat dilihatnya sang pasien nampak ragu berdiri tanpa ditopang tongkat tersebut. Kemudian Dr. Tan berbicara macam-macam ke pasiennya untuk menggambarkan kondisi buruk yang mungkin terjadi apabila ia bergantung pada tongkat tersebut, mulai dari penurunan fungsi otot, organ yang terganggu sampai ke masalah psikis di mana ia suatu saat akan menyalahkan lingkungan, mulai dari orang sekitarnya hingga ke anak-anak yang dianggap tidak memperhatikan dirinya. Entah semburan kalimat itu begitu bombastis atau mengandung mantra, hehe, mendadak sang pasien mampu berdiri tanpa masalah walau tongkat itu telah dilepas.

“Lihat kan! Apa rasanya berdiri tanpa tongkat? Tidak jatuh kan?” tukas dr. Tan puas.

Hebat!

INTEROGASI



Setelah itu saya kembali masuk ke ruang praktek beliau, kali ini bergabung dengan belasan pasien baru. Walau bersesak-sesakan di ruang yang kecil, namun tidak ada satupun pasien mengeluh atau protes, hebat kharisma dokter bertubuh langsing ini. Di sini Dr. Tan, langsung berbicara “Silahkan mengenalkan diri masing-masing dan keluhannya, tapi ingat! Ini bukan ajang curahan hati, cukup kenalkan, sisanya biarkan saya yang berbicara!”. Wuih, teknik yang unik lagi diperlihatkan oleh beliau.

Perlahan-lahan satu persatu pasien berbicara. Memperkenalkan diri dan kondisi masing-masing. Dr. Tan mendengarkan dengan seksama, lalu ia memberondong pasien tersebut dengan pertanyaan yang sifatnya personal terkait kondisi kesehatan mereka. Memberondong? I don’t exaggerate over this, ia benar-benar memberondong kata-kata layaknya senapan mesin atau UZI (senapan serbu taktis buatan Israel yang mampu memuntahkan minimal 600 peluru per menit) ke pasiennya, yang tentu saja menjadi gelagapan dan memberikan jawaban jujur tentang latar belakang mereka. Sebuah metode interogasi a la militer rupanya.

Dr. Tan : “Kenapa Anda kesini?”
Pasien : “Saya merasa obesitas, dok..”
Dr. Tan : “Kenapa obesitas?”
Pasien : “Karena keturunan di keluarga saya..”
Dr. Tan : “Nonsens! Kenapa?!” *mulai meninggi nadanya*
Pasien : “Ngg.. Anu, mm.. makan saya banyak” *mulai terintimidasi*
Dr. Tan : “Kalau makan bener, banyak juga gak pa-pa! Kenapa?!”
Pasien : “Saya suka makan yang manis-manis, dok”
Dr. Tan : “Nah, itu dia.. Persis!” *manggut-manggut puas*

“Jangan pernah ada yang bilang, kalau kalian itu sakit karena keturunan, itu mayoritas bohong! Sedikit sekali penyakit yang menurun karena genetika, sedikit!” setelah itu Dr. Tan, dengan gaya yang sangat ekspresif memukul meja di depan dan kemudian mencolokkan jari-jari tangannya ke mulut. “Ini yang membuat penyakit seakan-akan muncul di keluarga sebagai penyakit turunan…” katanya setengah membeliakkan matanya “Keluarga, meja makan dan apa yang kalian makan di sana!”.

Atau ini..

Dr. Tan : “Kenapa pak?”
Pasien : “Saya darah tinggi, dok..”
Dr. Tan : “Berapa?”
Pasien : “Sekarang sih lagi minum obat jadi 120-80
Dr. Tan : “Saya tanya nilai kamu, bukan nilai bikinan guru les!”
Pasien : “He?” *bingung*
Dr. Tan : “Itu kan bikinan dokter kamu? Bukan darah tinggimu..”
Pasien : “Hehe, iya dok..”
Dr. Tan : “Jadi kalau guru lesmu matek, nilai kamu merah lagi?”
Pasien : *Tambah bingung*
Dr. Tan : “Udah berapa taun minum obat itu”
Pasien : “Lima tahun, dok”
Dr. Tan : “LIMA TAHUN?! Dan gak ada kemajuan, begitu-begitu saja?”
Pasien : “Iya dok, tapi memang gak pernah melonjak lagi..”
Dr. Tan : “Guob*** sisan!!!” *membentak sembari memukul meja*

Kemudian sambil marah-marah pada dirinya sendiri ia mengungkapkan keheranannya pada pasien yang mau saja berobat bertahun-tahun pada seorang dokter tapi tidak menunjukkan gejala perbaikan, hanya berada pada posisi stagnan. Dan pasien itu sudah cukup puas.

“Itu sebabnya pasien yang kena darah tinggi, ‘matek’-nya rata-rata bukan karena darah tingginya, tapi karena liver atau ginjalnya ngambek! Lha wong bertahun-tahun harus menelan racun. Yang konyol ya, pasiennya.. Kok mau? Dan dokternya juga.. Kok tega?”

Ia menuding lagi ke bapak pasien darah tinggi tadi. “5 tahun ke dokter itu, pernah ndak, bapak dikasih tau, kenapa sakit darah tinggi bisa terjadi? Dan apa langkah pencegahannya agar tidak sampai sakit, selain minum obat?” Ketika sang bapak menggeleng, Dr. Tan menghembuskan nafas kesal dan membanting tubuhnya ke senderan kursi.

“Persis! Guo**** tenan!”

BUKAN SPESIALIS
Tapi bukan berarti dokter satu ini lebih banyak mengomel dan memaki. Ia sangat taktis dalam memberikan penjelasan beragam penyakit yang diderita pasiennya. Begitu taktisnya sampai orang paling awam pun rasanya bisa mengerti dengan cukup mudah apa yang dimaksud oleh beliau. Bandingkan dengan mayoritas oknum dokter yang cuma mendengar keluhan pasien, tanpa melihat mata pasien, kemudian menuliskan resep, tanpa melihat mata, lalu mempersilahkan pasien keluar ruangan, masih dengan tanpa melihat mata.

Dr. Tan lain, ia bahkan memberikan bahasa tubuh yang sangat teatrikal untuk menggambarkan kondisi tubuh yang mengalami masalah, ia juga tidak ragu-ragu berteriak kecewa, gembira atas reaksi juga jawaban pasien yang sesuai atau tidak dengan harapannya. Sebenarnya mengasyikan sekali melihat dokter satu ini saat berpraktek. Asyik, karena saya bukan pasien dan bisa melihat suasana ini dengan penuh objektivitas. Cerita lain kalau saya adalah pasien dan melakukan kesalahan yang tidak sesuai dengan petunjuk sang dokter ini.



“Bawa saja, bagian tubuh Anda yang sakit itu ke bengkel Astra, minta dibetulin di sana, kalau sudah balikin dan pasang lagi” Tiba-tiba salah satu kalimat pedas Dr. Tan memutus lamunan saya. Ada apa nih?

“Salah satu puncak kegob***an dunia kedokteran adalah maraknya spesialisasi ini dan itu di sana-sini. Lalu pasien yang dateng ke mereka diperlakukan layaknya onderdil mobil, dikerjakan satu persatu apabila rusak, bukannya dilihat sebagai satu kesatuan sistem, kapan mau sembuh beneran?” Omelnya dengan nada sangat keras.

Kemudian ia menjelaskan secara sistematis, mengapa tubuh manusia tidak sepatutnya dilihat dari organ per organ. Penyumbatan koroner jantung misalnya, tidak bisa tidak, penyebabnya hampir 100 persen berasal dari makanan, tapi setiap kali pasien penderita jantung koroner pergi menjalani operasi bedah jantung, entah di pasang ring atau treatment lainnya, jarang sekali dokter jantung yang memberikan tuntunan panduan makan secara cermat kepada pasien. Paling-paling pekerjaan ini dilempar ke dokter ahli gizi, yang kita semua tahu mayoritas cuma bisa memberikan resep langsing bukannya resep untuk hidup sehat.

(Kalau yang satu ini saya punya pengalaman pribadi, waktu diajak bekerja sama oleh salah satu dokter gizi kondang di Jakarta. Waktu saya sodorkan pola makan anti stres dengan manipulasi bahan makanan terkait dengan produksi zat neurotransmitter. Dokter itu terbengong-bengong, “Wah, saya mah taunya cuma bikin orang langsing doang. Gak tau nih begini-beginian?” Yak ampun? Saya ini bukan ahli gizi, mosok lebih tau konsep food therapy ketimbang dia?)

Jadi kembali ke kasus Dr. Tan tadi. Bagaimana seorang pasien bisa sembuh secara paripurna, kalau dokternya aja saling lempar-lemparan kasus? Ia sekali lagi memaki konsep spesialisisasi secara sembarang di dunia kedokteran.

“Makanya kalau ada orang tanya saya ini spesialisasi apa? Saya jawab, saya bukan mekanik bengkel, saya dokter!” Ini adalah salah satu kalimat pedas dari beliau yang diucapkan saat dulu pertama bertemu saya.

MAKAN SEHAT & BERGERAK
Akhirnya Dr. Tan memberikan resep sehat bagi setiap pasiennya. Bukan, beliau bukan mencatat kalimat-kalimat berbahasa latin untuk diteruskan ke apoteker dan diubah menjadi tablet, pil, salep atau obat cair, tidak! Resep yang ditulis oleh Dr. Tan, jangankan seorang apoteker, seorang tukang sayur yang biasa mampir ke rumah Anda pagi-pagi pun bisa mengerti.

Apa yang harus dimakan!



“Jangan ada yang protes, makanan yang saya rujuk ini bisa membuat Anda menikmati hidup atau tidak! Kalau mau sembuh, ya? Anda-Anda ini terlihat sekali adalah orang yang sudah hampir seumur hidup menikmati hidup dengan memanjakan lidah ke makanan yang enak, tapi salah!” Dr. Tan sudah menekankan konsep ini di awal pemberian resep hidup sehatnya.

“Sekarang Anda harus membayar harga nikmat tapi mematikan tersebut dengan berdisiplin mengikuti apa yang saya berikan” Tukasnya dengan tatapan tajam.

Apa yang diminta oleh Dr. Tan sangatlah sederhana untuk dimengerti dan dilakukan, tapi bagi para so called ‘penikmat hidup’, pastilah sangat berat untuk dituruti. Saran beliau :

1. “tidak ada gula!”
Orang sering dengan bodohnya mengira bahwa penumpukan lemak itu lahir akibat konsumsi lemak yang berlebihan. Padahal Dr. Tan mengatakan, “Manusia itu punyathreshold untuk lemak, yaitu rasa mual dan muak. Jarang ada manusia yang mengkonsumsi lemak lebih banyak dari kemampuan tubuhnya menerima”. Penumpukan lemak dalam tubuh kita, mayoritas lebih kepada konsumsi gula yang berlebihan dalam segala bentuk. Kandungan gula yang terlalu tinggi membuat tubuh mengeluarkan insulin berlebihan untuk menormalkan lonjakan gula darah dan mengakibatkan kelenjar pankreas lelah. Kerusakan pankreas membuat penyakit degeneratif yang sangat populer, Diabetes.

2. “buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat”
“Berhenti makan beras, tepung atau sumber karbohidrat umum lainnya! Kalau Tuhan mau kita makan beras, kita sudah dikasih tembolok dari lahir!” Masih terkait dengan apa yang diutarakan sebagai konsumsi gula berlebihan, Dr. Tan menekankan pada karbohidrat akan berubah menjadi gula, dimana cadangan gula yang berlebihan akan segera ditransformasikan oleh tubuh dalam bentuk glikogen (disimpan dalam hati - otot) serta trigliserida (lemak). Angka trigliserida tinggi adalah sumber obesitas yang sekarang semakin marak menyerang kehidupan manusia.

“Jangan panik, dengan bilang, kalau gak makan nasi badan saya lemas” Tukasnya sebelum ada pasien yang protes. “Tubuh Anda membangun kebiasaan, bukan memenuhi kebutuhan. Pernah liat orang yang habis makan, makanan Padang? Setelah dua jam, bukannya semakin kuat, mereka malah menjadi mengantuk! So, Anda bilang Anda lemas, kalau tidak makan nasi?”

Hihi!

Dr. Tan memberikan daftar penggantinya segera. Buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat. Ia menyajikan urutan buah-buah yang memiliki kandungan fructose -gula alami buah- aman. Ia juga menekankan cara menyajikan sayuran yang baik.

“Jangan bilang Anda sudah makan sayur kalau yang dimakan sayur bening atau sayur cap cay, itu bukan sayur, itu sampah dalam bentuk sayur!” Ucapnya dalam nada tinggi. “Sayur dimasak sudah pasti enzyme-nya mati, gak ada gunanya buat tubuh, paling cuma serat-seratnya aja. Makan sayuran mentah yang dicuci bersih, kalau takut sama petsisida, ya beli yang organic atau tanam sendiri di depan rumah!”

3. tidak ada susu binatang
“Sapi itu begitu anaknya sudah bisa berjalan, ia akan segera berenti menyusui dan membiarkan anaknya mencari makan sendiri, manusia itu satu-satunya species yang cukup gob*** untuk mati-matian mencari susu spesies lain dan merasa membutuhkannya”.

Ia kemudian menyambung lagi, “Anak kecil di atas usia 2 tahun dipaksa minum susu, orang tuanya tidak sadar bahwa anak itu akan mengalami kesulitan pencernaan, karena cadangan enzyme-nya akan terkuras untuk mencerna bahan makanan yang semestinya tidak ia konsumsi lagi”. Pendapat yang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hiromi Shinya tentang Enzyme pangkal atau miskonsepsi dimana intoleransi laktosa kadang dianggap tidak ada saat sang anak tidak mencret waktu minum susu. Padahal sang anak menunjukan gejala alergi lain, infeksi kulit, eksim, gatal-gatal, sembelit, obesitas, mudah terserang penyakit hingga asma.

Saya sih sudah tahu persis fakta bahaya susu sapi. Dari sisi lactose intolerant, casein, non absorb calcium juga gak ada guna-gunanya sedikitpun bagi tubuh. Tapi orang lain? Fakta satu ini membuat mereka terkaget-kaget. Maklum jor-joran uang yang digelontorkan pabrikan susu memang membuat kampanye kebutuhan manusia terhadap cairan produksi binatang ini terasa begitu membahana dan menguasai kehidupan kita.

“Kurang apa kalau kita gak minum susu? Kalsium? Bohong pabrikan itu, kalau gak minum susu kita kekurangan kalsium. Kalsium di susu sapi gak bisa diserap tubuh manusia, titik!” Ia kemudian menunjukan fakta kelicikan produsen susu untuk berkelit dari upaya penipuan saat orang yang minum susu tetap terserang osteoporosis. “Pasti ada tulisan kecil, sangat kecil, di salah satu sudut kotak atau kaleng susu, yang menuliskan kalimat semacam ‘Harus disertai dengan aktivitas fisik yang rutin’, jadi mereka bisa mengelak dari pasal penipuan ke masyarakat”. Ia juga menertawakan satu produsen susu sapi yang begitu gencar memasarkan produk susu kalsium tapi diembel-embeli dengan kalimat ‘berjalan 10.000 langkah perhari’. “Anda mau nyuruh kakek-nenek yang renta berjalan 10 kilometer sehari? Gak keropos bener, tapi yang ada mereka matek, kecape’an” ujarnya dengan logat Jawa sangat kental.

4. banyak bergerak
Kalau yang satu ini saya agak ge-er, karena Dr. Tan memberikan konsep sambil mengacu kepada beberapa tulisan saya yang telah ia baca. “Sistem limfatik tubuh cuma bisa berfungsi kalau kita bergerak dengan baik, terimakasih kepada Iyengar dan juga pada Erik yang telah menyampaikan pemikiran beliau kepada kita lewat tulisan-tulisannya” Ia mengucapkan ini sambil menatap tajam ke arah saya. Haha, segalak-galaknya beliau tapi ia punya jiwa fair play yang luar biasa. Sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan apa yang saya lakukan, benar-benar mengacu kepada kemaslahatan bersama, take a bow, doc!

Menurut Dr. Tan, usaha mati-matian di satu sisi tapi melewatkan sisi yang lain, adalah upaya yang kadang tidak membuahkan hasil maksimal. Menjaga makanan tanpa pernah aktif menggerakan tubuh secara benar akan membuat fitalitas kita terganggu. Demikian pula hal sebaliknya.

KESEMBUHAN HAKIKI
Kekerasan Dr. Tan kepada pasiennya, mengingatkan saya pada salah satu kalimat dari BKS Iyengar, tokoh utama yoga dunia, saat ia dikritik karena terkenal sebagai orang yang sangat keras dalam menerapkan metodenya. “Saya berhadapan dengan orang yang ingin belajar dari saya dan memperbaiki kerusakan yang telah mereka lakukan. Tapi saat mereka muncul di depan saya dan melakukan hal yang telah merusak mereka, apa yang harus saya lakukan?” Tanya Iyengar. “Saya harus bersikap keras dan menghancurkan kebiasaan lama mereka, agar mereka bisa menumbuhkan kebiasaan baru yang positif dan membenarkan apa yang telah mereka rusak selama ini. Mungkin memang ada cara lain yang lebih baik, tapi bagi saya ini cara terbaik yang bisa saya lakukan” Jawaban tegas dari seorang tokoh yang buah karyanya dijadikan rujukan utama di dunia kesehatan modern.

Sama dengan yang dilakukan oleh Dr. Tan ini. Berhadapan dengan segerombolan pasien yang telah menyia-nyiakan kesehatan mereka dengan berbagai cara, ia harus berlaku keras dan kejam, untuk membuat pasiennya sadar dan mengubah gaya hidup mereka sesuai dengan kebutuhan. “Kita boleh dibilang galak dan saklek, Rik. Tapi kalau mau merubah kebiasaan buruk orang, kita gak boleh kompromi. Terserah mereka mau melakukan atau tidak, it’s a matter of choice kok” Benar! If you don’t like what we do, don’t come to us, but if you think what we do can help you, so come!.

Sederhana kan?

Kepingin rasanya menyaksikan praktek Dr. Tan ini sampai habis. Sayang waktu saya terbatas dan harus segera meninggalkan tempat ini. Tapi sebelum saya pergi, Dr. Tan sempat mengungkapkan serentetan kalimat yang sangat berharga untuk didengar dan disebarkan. “Kesehatan itu harus bersifat hakiki. Kalau kita sakit, harus dicari penyebabnya, bukan cuma gejalanya yang diatasi, itu bukan penyembuhan, tapi mengulur-ngulur permasalahan” Ia mengarahkan padangannya kepada bapak yang terkena darah tinggi tadi.

“Kalau cuma mematikan alarm mobil, itu bukan menyelesaikan masalah. Kalau lampu indikator bensin menyala, ya kita harus mengisi bensin, bukan menggebuk lampu indikator itu supaya mati!”

Menarik sekali!

Sayang seribu sayang, tujuan selanjut saya sangat jauh dari tempat praktek ini, Bumi Serpong Damai ke salah satu daerah di bilangan Jakarta Pusat. Dengan berat hati saya memotong sesi ini dan meminta ijin untuk pergi. Dr. Tan berdiri menyalami saya sambil berkata, “Suatu kehormatan kamu meminta saya menulis kata pengantar untuk bukumu, mengharukan sekali”

Kehormatan untuk seorang Dr. Tan? Who do you think I am, doc?

It’s vice versa!




۞Peta Harta۞

Senin, 01 April 2013

Jangan Kecewa

Jika semua yang kita kehendaki terus kita Miliki,
darimana kita belajar Ikhlas?

Jika semua yang kita impikan segera Terwujud,
darimana kita belajar Sabar?

Jika setiap doa kita terus Dikabulkan,
darimana kita dapat belajar Ikhtiar?

Seorang yang dekat dengan Allah, bukan berarti tidak ada air mata.
Seorang yang Taat pada Allah, bukan berarti tidak ada Kekurangan.
Seorang yang Tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit.

Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Allah tahu waktu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

-broadcast bb-

Sabtu, 19 Januari 2013

Tips Sebelum Mengeluh



1. Hari ini sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.


2. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.


3. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

4. Sebelum Anda mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.


5. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup.


6. Hari ini sebelum Anda mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.


7. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.


8. Sebelum Anda mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.


9. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.


10. Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.


11. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.


LIKE & SHARE !

Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya ..



۞Peta Harta۞

Minggu, 13 Januari 2013

Cara Mengatasi Bosan


cara mengatasi bt :
  • berberes rumah, merupakan olahraga kecil dan setiap olahraga yang dilakukan akan merangsang hormon endorfin yang membuat tubuh nyaman dan gembira
  • talk to your friends, berkumpul bersama teman teman bercanda dan berbagi cerita akan membuat pikiran kita lebih rileks untuk sejenak
  • game, bermain game, bisa yang online atau permainan lain di dunia nyata selalu bisa membantu mengurangi rasa bosan yang ada
  • pergi pulang melewati jalan yang berbeda, gunakan jalan yang tidak sama setiap harinya, selain akan menambah daya ingat anda karena akan merangsang memori otak, cara ini juga bisa menghilangkan kebosanan dijalan
  • membiarkan diri tersesat, kadang sesekali kita perlu membiarkan diri tersesat di tempat yang kita tidak ketahui, ini seperti pertualangan mencari jalan keluar / jalan pulang.
  • membaca one piece ! ya, membaca buku yang disukai atau melakukan aktifitas kesukaan anda akan membantu menghabiskan waktu anda yang binggung mau melakukan apa, special for one piece pasti akan menghibur dengan joke khas oda sensei.
  • menyiram tanaman, menyiram tanaman di pagi/sore hari akan memberikan nuansa rileks pada anda, anda akan benar benar menikmatinya, merawat tanaman melihat nya tumbuh, berbuah dll.
  • bercanda dengan hewan kesayangan. peliharaan juga teman untuk berbagi, kadang bisa menjadi bahan untuk kita isengin dan bercanda, anjing, kucing, hamster ikan, dll. toh interaksi bukan hanya kepada manusia saja, hewan dan tumbuhan juga makhluk hidup kan?

dibuat dalam 5menit secara dadakan.
semoga bisa mengatasi rasa bt anda dan bermanfaat.
salam zonetinue.




Fanpic : One Piece - Gara Gara Rokok

Gara-Gara Rokok

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Sanji membaca sebaris kalimat itu dari bungkus rokoknya pagi ini. Ia terdiam sejenak di hadapan kompornya. Bukannya ia baru tahu bahwa ada peringatan sebesar 4 x 1 cm di tiap bungkus rokok yang ia beli, hanya saja baru kali ini ia merasa ada 'sesuatu' pada tulisan itu. Ia tahu jelas arti tulisannya, dan apa maksud serta tujuannya. Tapi, seperti kebanyakan perokok berat lainnya, Sanji menghiraukan tulisan itu.

Sanji kadang-kadang bertanya sendiri, kenapa ia tetap melanjutkan kebiasaannya itu padahal sudah tahu apa dampak rokok yang ia isap tiap hari. Larangan itu kedengaran hampa baginya, seolah hanya isapan jempol belaka. Dan lagipula, pikir Sanji, sudah tahu rokok berbahaya bagi kesehatan, kenapa masih juga diproduksi?

Akhirnya, bachelor muda itu mengangkat bahu dan melempar bungkus rokok yang sudah kosong itu ke tong sampah, seperti yang ia lakukan pada bungkus-bungkus rokok yang lain. Ia melanjutkan kegiatan memasak makan siang untuk Nami-swan, Robin-chwan, dan kru-kru lainnya dengan santai. Setelah dirasa sudah waktunya matang, saus untuk steak itu ia ambil sedikit untuk dicicipi.

Ia yakin rasanya enak dan extra-sempurna, tapi sudah kewajiban koki untuk mencicipi rasa masakannya, sekaligus berjaga-jaga kalau di masakan itu ada racunnya.

Tapi kok, hambar?

Mata Sanji terbelalak seketika menghadapi kenyataan itu. Masakannya... hambar?

Rasanya ia sudah memasukkan semua bumbu; garam, gula, kecap Inggris, dan rempah-rempah untuk memberikan wangi saus yang menggoda. Tanpa dicicipi pun ia sudah bisa 'menggambarkan' kehebatan rasanya.

Sekali lagi ia mencicipi rasa saus steak itu, kali ini dengan jumlah yang lebih banyak. Sanji kini berkonsentrasi penuh pada rasa masakannya. Mungkin ia kurang memberi garam? Sewaktu ia akan memasukkan bumbu itu ke saus, kaptennya yang tukang makan datang dan mengacau sedikit. Mungkin saja saat itu ia tidak jadi memasukkan garam dan berasumsi bahwa ia sudah melakukannya.

Tapi tetap hambar. Agak-agak pahit malah.

Kini Sanji semakin tertegun. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia mengalami kasus 'buta rasa'. Untungnya, Robin masuk ke dapur untuk membuat kopi.

"Sedang memasak apa?" Tanya wanita itu ramah sambil menaruh gelas kopinya di bawah mesin-pembuat-kopi-SUPER, dan menaruh sejumlah biji kopi di wadah penggilingnya. Mesin pembuat kopi yang lama hancur karena Luffy, Usopp, dan Chopper bereksperimen menggiling daging mentah di dalamnya (dagingnya tercincang dan mental ke seluruh dapur. Nami marah besar, karena harga mesin pembuat kopinya mahal, sehingga Franky dan Usopp membuatkan yang baru dengan embel-embel kata 'SUPER').

"Saus steak," Jawab Sanji, "Robin-chan, maukah kau mencicipi sausnya?" Tanya Sanji sopan.

"Dengan senang hati," Jawab Robin. Ia meninggalkan mesin yang sedang menggiling biji kopi itu dan menghampiri Sanji. Sanji memberinya sendok pencicip makanan dan menunggu dengan sabar tapi harap-harap cemas.

"Rasanya lezat sekali, Tuan Koki."

"Begitukah?"

Sanji terlihat lega. Tetapi sekarang ia malah memikirkan sesuatu mengenai indera perasanya. Dan tiba-tiba saja, sebuah pesan lama dari Pak Tua Keparat yang ia kenal menamparnya...

..."Hentikan! Rokok akan merusak indera perasamu!"

"Hehe... kan aku sudah dewasa!!"...

... Sanji segera memaksa pikirannya kembali ke bumi. 'Bodoh, apa yang kupikirkan?'

"Terima kasih sudah mau membantuku, Robin-chwan."

Robin memberikan senyuman 'no problem'-nya dan berjalan sambil membawa segelas kopi hangat untuk ia nikmati. Sanji lega, Robin tidak menanyakan absennya pikirannya sesaat tadi.

Atau begitulah pikir Sanji.

Pengalaman Robin memata-matai selama 20 tahun segera menyadari ada sesuatu yang salah dari sedikiiiit saja kerutan di kening Sanji. Dan hanya butuh waktu perjalanan dari dapur ke perpustakaan untuk Robin menyimpulkan bahwa hal yang salah itu ada pada indera perasa Sanji...

Malam tiba, dan tidur Sang Koki tidak tenang. Ia menggeliat ratusan kali di atas hammock-nya, mengganti arah, posisi tidur, hingga berguling-guling tapi kantuknya tak kunjung datang. Ditambah kepalanya terasa agak berat. Sebenarnya kenapa dengan tubuhnya hari ini? Setelah lidahnya hanya bisa merasakan rasa hambar dan pahit, sekarang kepalanya juga ikut-ikutan aneh.

Sanji menyerah.

Ia bangkit dari hammock dan berjalan keluar kabin tempat anak-anak cowok tidur. Angin malam segera menghembus menerpa tubuhnya yang terbalut kaos dan celana biasa. Angin bertiup agak kencang, mungkin lebih baik ia mengambil jaketnya. Dan rokoknya.

Setelah mengambil dua benda kebutuhan primer-nya saat ini, ia kembali ke dek rumput. Menikmati hembusan angin yang membelai rambutnya dan membawa terbang asap rokok yang ia hembuskan. Laut tenang dan bulan bersinar cerah, cahayanya terpantul di hitamnya laut bagaikan cermin yang berombak. Rasa sakit di kepala Sanji masih membandel, dan mau tak mau ia juga kepikiran dengan kejadian tadi siang...

Kenapa dengan lidahnya?

Sekarang ia mengerti apa yang dimaksud dengan 'sesuatu terasa berharga ketika kita sudah kehilangannya'. Dengan lidah yang nyaris-divonis-lumpuh, ia tidak mungkin menjadi koki lagi. Koki harus mencicipi makanan yang ia buat. Walau koki itu adalah koki terhebat sedunia yang bisa 'menggambarkan' rasa hanya dengan menakar bumbu masakannya saja, mencicipi apa yang ia buat dengan tangan sendiri adalah sebuah hukum yang tidak boleh dilanggar seorang koki.

Benarkah ia kehilangan fungsi lidahnya karena rokok? Bagaimana reaksi Zeff kalau tahu peringatannya menjadi kenyataan? Belum lagi alasan Sanji dulu yang memang tidak berbobot sama sekali ketika memutuskan untuk merokok. Ia merasa dirinya sudah dewasa dan patut merokok? Bagaimana bisa dirinya bisa berpikir sepolos itu?

"Sanji-kun?"

Sanji menoleh, melihat Nami-swannya yang sedang jaga malam menghampiri. Dari wajah cantik Sang Navigator, Sanji bisa menerka bahwa gadis itu bertanya-tanya kenapa ia bisa duduk di dek rumput di tengah malam buta.

"Tidak bisa tidur." Sanji menjawab pandangan bertanya itu, "Kepalaku sakit."

"Oh..." Nami mengambil tempat di sebelah Sanji. Tidak perlu repot-repot minta izin karena Sanji pasti akan mengiyakan.

"Kau memikirkan sesuatu?" Tanya Nami akhirnya. Tumben sekali Sanji tidak memujinya yang memakai gaun malam.

Sanji menatapnya sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Aku hanya memikirkan sebuah kejadian di masa lalu."

"Apa kau ingin ku tinggal sendiri?" Tanya Nami, walau sudah tahu bahwa jawabannya sudah pasti adalah—

"Maaf, Nami-swan, tapi untuk saat ini, iya."

—Jelas bukan jawaban itu. Sanji MENOLAK berduaan dengannya? Apa yang ia pikirkan sampai jadi OOC begitu? Pasti ada yang tidak beres!

"Yah, baiklah. Aku ada di perpustakaan. Malam, Sanji-kun." Tapi Nami memutuskan untuk tidak mengorek lebih jauh. Belum saatnya. Ia sendiri terkejut dengan sikap Sanji malam ini. Ia selalu berteori bahwa hari dimana Sanji menolak berduaan dengannya adalah hari dimana Luffy membaca buku; artinya, itu tidak mungkin.

"Malam, Nami-swan." Balas Sanji. Yah, minimal Sanji masih tetap memanggilnya dengan embel-embel '-swan'.

Setelah Nami kembali ke perpustkaan, Sanji menatap puntung rokok di tangannya. Luffy mengajaknya bergabung karena ia butuh koki selama perjalanan mengarungi Grand Line. Kalau lidahnya lumpuh, masihkah ia sanggup menyebut dirinya koki? Bagaimana kalau lumpuhnya lidah hanya awal permulaan? Bagaimana kalau selanjutnya paru-parunya yang lumpuh?

Hampir di setiap scene, Sanji si Kaki Hitam selalu terlihat di dapur, memakai celemek Doskoi Panda, dan memasak — biasanya sup. Tapi siang ini, setelah ia memberikan makan siang untuk nakama-nakamanya, Sanji justru terlihat di perpustakaan, dan bukan berkutat pada buku resep. Di atas tangannya, terdapat sebuah buku kedokteran yang terbuka di halaman 172.

Ia tahu benar apa bahaya merokok, tapi ada hal yang ingin Sanji pastikan dari insiden kemarin. Entah kenapa ia benar-benar penasaran, bahkan kepalanya terasa sakit sekarang karena kurang tidur semalaman.

Berikut adalah bahaya merokok pada kesehatan;

Satu, kanker paru-paru...

Dua, serangan jantung...

...

...

Sepuluh, RASA PAHIT PADA MULUT TANPA ADANYA TEMBAKAU

Sebelas, HILANGNYA FUNGSI INDERA PERASA PADA LIDAH

...

...

Di mata Sanji, ada beberapa nomor yang entah kenapa tercetak capslock pada pandangan matanya.

"Baca apa kau sampai berkeringat dingin begitu?" Tanya suara bass di belakangnya. Sanji terlonjak dan menaruh buku yang ia baca asal saja kembali ke raknya.

Ia segera menyemprot rekannya yang berambut hijau, "Kau! Dasar brengsek! Mau membuatku kena serangan jantung, ya?!!"

'... Sebelum aku terkena serangan jantung karena kecanduan rokok...' Tambah pikiran Sanji usil.

Sanji menendang 'Little-Devil-Sanji' di kepalanya itu ke Mars dan lalu kembali ke bumi secepatnya.

"Sayang sekali aku tidak berhasil membuatmu kena serangan jantung," sindir Zoro, "begitu saja kaget... baca apa kau?"

"Bukan urusanmu. Ngapain kau disini? Biasanya kau lebih senang ada di gym..."

"Nami menyuruhku mengambilkannya buku catatan navigasinya. Kenapa kau di depan rak buku Chopper?"

"Kalau kau sendiri kesini untuk mengambil buku Nami-san, kenapa juga kau di depan rak buku Chopper?"

Zoro memandangnya heran, "Rak buku Nami kan disini." Ia menunjuk rak buku di sebelahnya yang berhadapan dengan rak buku Chopper. Zoro bertanya-tanya kenapa penggemar Nami nomor satu di depannya itu bisa lupa letak rak buku sang pujaan. Matanya sempat melirik sekilas ke buku yang barusan di baca Sanji; seperempat badan buku itu masih terjulur keluar, dan dengan lirikkan kurang dari sedetik itu, judul bukunya yang tertera pada bagian samping buku segera terpatri pada ingatan Zoro.

Omong-omong, Nami berpesan kalau ia tidak muncul dalam 5 menit ke depan bunga utangnya akan ditambah. Zoro segera meninggalkan perpustakaan dan Sanji sendiri, tetapi masih sempat menggumamkan sesuatu yang cukup keras untuk di dengar Sanji, "Ternyata orang yang beralis lingkar akan sulit mengidentifikasikan kepemilikkan suatu benda..."

"MARIMO KEPARAT! GARA-GARA RAMBUT HIJAUMU ITULAH MAKANYA KAU TIDAK BISA MENGIDENTIFIKASIAN ARAH!!"

Zoro berjalan ke dek rumput tempat Nami berada tanpa menghiraukan teriakan Sanji tadi. Ia hanya memikirkan judul buku yang tadi sempat ia curi pandang; BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN.

Kenapa si Koki Cinta membaca bahaya merokok? Apa di baru sadar kalau merokok itu berbahaya?

Menjawab pertanyaan Zoro, sebuah bom melayang menghantam dek rumput.

BLAAAAAR!!

KRAAK!!

"Apa yang kalian pikir lakukan pada kapal kami, Marinir Sialan?!" Bentak Franky.

Mendengar kata marinir, secara insting Sanji dan Zoro berlari ke atas dek. Ada 6 kapal berloreng hitam di hadapan Thousand Sunny.

"Mugiwara no Luffy! Kami akan menangkapmu dan teman-temanmu kali ini!!" Gertak tanpa hasil sang pemimpin di kapal itu.

"Saatnya bertempur!!!" Seru Kapten mereka penuh semangat.

"OUGH!!"

"Nami-swan! Robin-chwan! Aku akan melindungimu!"

"Yohohohoho!! Berhadapan dengan marinir membuat jantungku berdebar-debar!! Ah, tapi—"

"Ya, ya! Kau sudah tidak punya jantung! Lakukan sesuatu pada pasukan yang baru melompat ke kapal kita!!"

"—SKULL JOKE!! Yohohohohoho!!!"

Sanji menghajar sebanyak mungkin marinir yang ia bisa, jelas masih menyimpan dendam mengenai masalah poster buronannya. Ini cuma perasaannya saja atau jumlah marinirnya bertambah dua kali lipat? Bukan masalah sih, tapi kepalanya jadi sakit melihat jumlah marinir yang mengepungnya, berusaha memberinya semakin sedikit ruang gerak.

Aneh, pikir Sanji, tubuhnya tidak mau menurut. Kenapa napasnya cepat sekali habis? Jantungnya juga lelah. Ini tidak baik... paru-parunya terasa nyeri. Ia juga sadar perlahan-lahan kekuatan tendangannya semakin berkurang. Dan sekali lagi, sebuah baris yang ia baca 15 menit sebelumnya menampar pikirannya lagi...

BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN

...

...

Enam, gangguan kehamilan dan cacatnya janin

Tujuh, HILANGNYA STAMINA DAN MUDAH LELAH

...

...

Apa mungkin hanya tinggal tunggu waktu saja sampai ia kena serangan jantung? Bagaimana kalau pada kali berikutnya Luffy menganggunya maka ia benar-benar akan mati? Ini bukan cara mati yang ia inginkan sebagai seorang bajak laut...

"Oi, Sanji! Kau kenapa?" Tanya Luffy di antara serangan-serangannya.

Hah? Bagus, bahkan sekarang krunya bertambah dua kali lipat di matanya. Ia pernah baca kalau rokok memberikan efek halusinogen juga...

BRUK!

"SANJI!!!"

"Sanji roboh!! Franky, kita lari saja!" Teriakan panik Nami adalah hal yang terakhir yang ia dengar...

Mugiwara no Kaizoku panik. Sanji pingsan di tengah pertarungan dengan nafas tersengal. Untungnya operasi penyelamatan diri berhasil dilakukan oleh Franky dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kini, mereka berada di perairan musim semi Grand Line yang tenang. Semuanya berkumpul di depan ruang kerja Chopper, minus Sanji yang diperiksa Chopper, dan Chopper sendiri yang memeriksa Sanji.

"Kenapa Sanji bisa pingsan?" Tanya Usopp, topeng Sogeking masih ada di tangannya sementara jubahnya masih terpakai, "setahuku dia sehat sekali."

"Mungkin ia kurang tidur? Setahuku kemarin ia bergadang jaga malam..." Tebak Franky.

Mereka kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya suara Luffy memecahkan keheningan.

"Kalau Sanji tidak ada..." Kata Sang Kapten lirih, "... makananku gimana?" tangisnya memelas.

"BUKAN ITU POKOK MASALAHNYA!" Bentak seluruh kru kecuali Robin.

"Mungkin sudah saatnya aku mengarang requiem untuk upacara kematian?" Tanya Brook santai.

"JANGAN NGARANG CERITA YANG TIDAK-TIDAK!!"

"Kemarin," akhirnya Robin angkat bicara, "Tuan Koki memintaku mencicipi makanannya."

Semua kru terdiam sejenak. Belum nalar akan maksud dari informasi Robin.

"Lalu?" Tanya Luffy, sekadar memberi jeda.

"Ia agak bingung waktu kubilang makanannya enak. Mungkinkah ada masalah pada indera perasanya?"

"Sebelum kita bertempur, aku bertemu si Alis Dart di perpustakaan. Ia ada di hadapan rak Chopper dan membaca buku berjudul "Bahaya Rokok Bagi Kesehatan." Kini giliran Zoro yang memberikan kesaksian."

Usopp berusaha merangkai logika dari bukti yang ada, "indera perasa hilang... buku "Bahaya Rokok Bagi Kesehatan"... dan pingsan dengan nafas tersengal-sengal..."

Nami tiba-tiba menahan napas dengan ekspresi panik, seluruh kru menoleh ke arahnya, "jangan-jangan.... efek samping dari rokok itu mulai terasa bagi tubuhnya!"

"Kalau begitu, yang barusan itu..." Robin berusaha berpikir melalui reka ulang kejadian di kepalanya.

"... serangan jantung?" Nami menyelesaikan kalimat Robin. Air mata segera terbit di wajah cantiknya.

Semua kru terdiam. Bingung dan tidak percaya akan informasi yang baru mereka dengar. Shock. Dari semua berita buruk, kenapa berita buruk seperti ini yang mereka dapatkan?

Pintu ruang kesehatan terbuka, dan sosok mungil rusa berhidung biru muncul.

"Chopper!! Bagaimana keadaan Sanji?!" Teriak Luffy panik. Diikuti rentetan pertanyaan dari sisa nakamanya.

"Apa masih bisa selamat?!"

"Kumohon iya! Biasanya serangan pertama tidak terlalu parah!!"

"Jawab kami, Chopper!!"

Chopper terdiam, "lebih baik kalian lihat sendiri..."

"AAAAH!!! SANJIII!!! KENAPA KAU PERGI SEBELUM MENEMUKAN ALL BLUE?!" Raung Luffy berurai air mata.

"Dasar Alis Lingkar Bodoh!! Terus saja merokok seumur hidupmu!"

"Sanji-kun...!"

"Abang Kokiii!!! Hiks! Aku tidak menangis lhooo...."

"Sanji-san, walau aku belum lama bertemu denganmu, aku tetap menghormatimu..."

"Tu-Tunggu! Sebenarnya kalian kenapa?" Tanya Chopper bingung. Di saat yang bersamaan, Luffy, yang berhasil memeluk jasad Sanji paling pertama, juga menyadari hal lain...

"Na-Nande? Kenapa mayat badannya panas begini?"

"Si-siapa yang mayat? Kalian ngomong apa dari tadi?" Chopper yang bingung segera meminta penjelasan teman-temannya.

"Sanji tidak mati?" Tanya Usopp.

"Memang siapa yang bilang dia mati? Dia terserang CACAR AIR!!" Kata Chopper keras.

"Ta-tapi... Katanya mulutnya terasa hambar..." Nami tergagap.

"Semua orang yang sedang demam mulutnya akan terasa pahit, sehingga makanan apapun yang masuk pun rasanya hambar."

"Tadi dia pingsan, tersengal-sengal, dan mencengkram dadanya kan?" Tanya Zoro.

"Dia kan demam, terlalu banyak bergerak akan membuatnya cepat lelah dan otot dadanya pasti nyeri!"

"Maksudmu, dari kemarin ia tidak sadar kalau sedang demam?" Tanya Robin.

"Sepertinya begitu... Itu karena kemarin demamnya hanya berupa gejala kecil saja. Sekarang baru mulai panas dan akan muncul bintik merah di tubuhnya." Chopper menggulung lengan kemeja Sanji, memperlihatkan beberapa bintik merah khas cacar air, "mulai besok, pasti bintiknya akan membesar... Tapi kalau dirawat baik-baik ia akan sembuh dalam seminggu ini."

"Ta-tapi, bukankah Robin juga setuju Sanji kena serangan jantung?" Luffy menunjuk rekan wanitanya yang berambut hitam itu,

Robin mengangkat bahu, "Aku sedang berpikir mengenai gejala-gejala Sanji... semalam ia susah tidur sehingga memutuskan untuk jaga malam, ditambah lidahnya yang agak bermasalah menurut dirinya... ketika aku akan menarik kesimpulan, Nami sudah memotong perkataanku terlebih dahulu."

Semua kru kembali shock untuk masalah yang berbeda.

"... tadinya aku akan memberi tahu kalian kalau Tuan Koki hanya terserang demam, mungkin..."

"Memang kalian kira Sanji kenapa sampai harus mati segala?" Tanya Chopper polos.

Semua kru menghela napas dan tanpa sadar merosot ke lantai, membiarkan Sang Dokter Rusa memandang mereka penuh tanda tanya, dan Robin hanya tertawa kecil melihat teman-temannya tanpa sadar menunjukkan rasa sayang mereka pada seorang koki yang sedang kena cacar air... termasuk Zoro.

"Omong-omong... Usopp, kok topeng Sogeking ada padamu?"

"A-apa?! O-oh... di-dia menitipkannya padaku untuk ku reparasi... itu karena ia bertarung di pulau penuh hewan raksasa aneh di pulau yang melayang—"

"Seperti Pulau Langit?"

"Ya, semacam itu!! Ia harus melawan macan biru, belalang raksasa, lalu melawan penguasa pulau itu! Dia adalah pria besar berkaki kayu dengan kemudi kapal yang menancap di kepalanya!! Lalu... ah, tapi kurasa kalian tidak tertarik dengan cerita Sogeking—"

"CERITAKAN!! CERITAKAN PADA KAMI!!"

THE END

Author: mocaimocai

MR.galau


۞Peta Harta۞

Kamis, 20 Desember 2012

kata kata motivasi mario teguh vs sule

kata kata motivasi mario teguh vs sule !!



ini adalah komitment mario teguh asli




dan ini lawakkan mario sule


Spoiler for MOTIVASI 1:

"Bila anda gagal hari ini, jangan pernah menyerah. Ulangi terus kegagalan anda sampai boss anda menyerah."
-Mario Tegar-


Spoiler for MOTIVASI 2:

"Jangan lakukan kesalahan seperti keledai. Jadi apabila besok pagi Anda terlambat masuk kantor......maka janganlah Anda terlambat (lagi) saat pulangnya".
-Mario Teng-Go-


Spoiler for MOTIVASI 3:

"Kesuksesan bisa diraih karena usaha…
Usaha ada krn kemauan…
Kemauan tercipta krn ada cita²…
Cita² berasal dari mimpi…
Mimpi ada krn Tidur…
So…
Jika ingin sukses marilah kita tidur…"
-Mario Tengil-


Spoiler for MOTIVASI 4:

"Jika modal usaha Anda habis utk aktivitas usaha Anda, setor terus modal Anda sekalipun tidak mendatangkan hasil"
-Mario Tekor-


Spoiler for MOTIVASI 5:

"Tak ada pekerjaan yg berat di dunia ini. Pekerjaan Seberat Apapun Akan Terasa Ringan Apabila Tidak Dikerjakan"
-Mario Ngeluh-



Spoiler for MOTIVASI 6:

"Ketika Dilanda Kesulitan Keuangan.... Jangan pernah menyerah .... Benturkan lah kepala anda ditembok atau batu maka akan keluar duit ..."
-Mario Bross-

Spoiler for MOTIVASI 7:

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba walaupun anda tahu anda tidak akan pernah berhasil. Karena ke-BERHASIL-an hanya milik DORA the explorer...
BERHASIL! BERHASIL! BERHASIL! HORE!!!
-Mario The Explorer-


Spoiler for MOTIVASI 8:

Hanya sedikit orang yang memiliki karakter tidak iri hati bila melihat temannya sukses. Jagalah jangan sampai jenis tersebut punah. Mari kita lestarikan!
-Mario Ngaco-


Spoiler for MOTIVASI 9:

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. Jikalau perlu, daftarkan diri anda di Indonesia Mencari Bakat. Anda akan tampil secemerlang yang berbakat walaupun tidak berbakat. Selamat berjuang.
-Mariono-



Spoiler for MOTIVASI 10 (tambahan dari agan Snowvin):


Kalau Anda belum bisa mencapai no 1 pada bisnis Anda.. Tembakkan Rudal kepada orang yang di depan Anda.

-Mario Kart-


Spoiler for MOTIVASI 11 (tambahan dari agan Goalkeeper60):

saat anda gagal mencapai impian anda, jangan pernah berhenti untuk terus mencoba sampai akhirnya tak ada lagi kekuatan untuk mencobanya

-Mario Tepar-



Spoiler for MOTIVASI 12:

Saat anda mengalami kegagalan dalam menjalankan misi bisnis anda, sabarlah sebentar... karena anda akan respawn dalam 4 detik kedepan dan dapat melanjutkan misssion card anda... GO! GO! GO!

-Mario Blank-


۞Peta Harta۞

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites